Kaukus Muda Indonesia (KMI) Adakan Seminar Bertemakan ‘Integrasi Indonesia National Single Window (INSW) Dalam Memangkas Dwelling Time’

0
74

Bertempat Di Hotel Meridien Jakarta Kaukus Muda Indonesia (KMI) Mengadakan Seminar Bertemakan : ‘Integrasi Indonesia National Single Window (INSW) Dalam Memangkas Dwelling Time’

Foto : Jeane

Jakarta, Shirosevenine – Hari ini, Rabu (12/04/2017), bertempat Di Hotel Meridien Jakarta Kaukasus Muda Indonesia (KMI) Mengadakan Seminar Bertemakan : ‘Integrasi Indonesia National Single Window (INSW) Dalam Memangkas Dwelling Time’. Hadir dalam seminar ini pembicara dari beberapa bidang seperti : David Pandapotan Sirait (Senior Vice President Operations IPC), Hari S. Noegroho (Deputi Bidang Proses Bisnis PP-INSW), Subandi (Ketua Gabungan Importir Nasional Indonesia), Nizar Zahro (Anggota DPR Fraksi Gerindra).

Dalam pernyataannya Hari S. Noegroho yang menjabat Deputi Bidang Proses Bisnis PP-INSW mengatakan bahwa layanan Integrasi Indonesia National Single Window (INSW) merupakan solusi berupa tatanan sistem informasi secara nasional menuju layanan single window atau one stop service.

“INSW ini digunakan untuk memfasilitasi perdagangan antar negara. Sistem ini mengintegrasikan sistem antar instansi agar seluruh layanan menyatu mendukung layanan single window. Dengan adanya NSW ini langsung dan tak langsung merubah budaya layanan dari sistem ego sektoral menjadi satu kesatuan layanan pemerintah. Dengan adanya INSW ini memberikan kesempatan seluruh instansi atau lembaga pemerintah untuk menyetarakan layanan di Indonesia sesuai standar global,” jelas Hari S. Noegroho.

Sedangkan Nizar Zahro dalam paparannya menyatakan perlu adanya regulasi dan peraturan pemerintah yang jelas untuk mengatur tata kelola pelabuhan, khususnya yang menyangkut masalah Dwelling Time.

David Pandapotan Sirait memaparkan mengenai masalah logistik nasional, dimana ketidakmampuan mengurus sistem logistik nasional dapat mempengaruhi daya di kata bangsa, ditunjukkan lewat beberapa indikator yaitu lebih murah mengirim barang ke Jerman, biaya logistik Indonesia paling tinggi, dan indeks performansi logistik Indonesia paling rendah.

“Dari 5 negara besar di Asia Tenggara ternyata ongkos logistik Indonesia paling besar yaitu 24,6% dari PDB Indonesia adalah biaya logistik (Sumber : World Bank, 2013). Jika akan bersaing di kancah internasional maka Indonesia harus membenahi logistiknya,” ujar David.

“Isu Dwelling Time adalah menjadi isu yang paling menyita perhatian publik atau masyarakat terutama untuk masalah manajemen atau tata kelola pelabuhan. Proses operasinya dimulai dari kapal sandar sampai peti kemas meninggalkan pelabuhan, meliputi proses bongkar (discharge), kemudian penumpukan di lapangan, dan proses delivery, dan itu butuh atau memakan waktu 1-3 hari,” jelasnya lagi.

David mengatakan salah satu solusi untuk mengatasi permasalahan logistik nasional adalah lewat Tol Laut.

“Tol Laut sudah menjadi program strategis pemerintah yang melibatkan berbagai BUMN Maritim. Tol Laut ini menjadi solusi untuk mengatasi permasalahan yang dimulai dari ketimpangan pertumbuhan ekonomi antara pusat dan daerah, dimana pembangunan mayoritas berpusat di Pulau Jawa, sedangkan perdagangan sangat sedikit ke timur, untuk mengatasi permasalah diatas dibutuhkan Tol Laut,” imbuh David. (Jeane)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here